Peralatan & Bahan Batik

1. Soga

Soga, Peltophorum pterocarpummenurut Blanco

Soga (Peltophorum pterocarpum) adalah nama pohon penghasil bahan pewarna batik yang penting. Tumbuhan ini termasuk ke dalam suku polong-polongan (Fabaceae, atau Leguminosae) dan secara alami menyebar luas mulai dari Srilanka, Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara, hingga ke Papua Nugini.

Pohon yang anggun dan berbunga indah ini dikenal dengan banyak nama. Di antaranya Yellow Flame Tree, Yellow Poinciana, Copperpod, Yellow Flamboyant, Golden Flamboyant (Ingg.); batai laut, jemerlang laut (Mal.); siár (Sulu); non see (Thai); dan lim sét, trac vàng (Viet.). Di Indonesia sendiri dikenal dengan berbagai nama seperti soga, soga jambal (Jw.); kaju jhuwek (Md. Kangean); hau kolo, laru (Tim.); lalu loëh (Rote); léwĕttĕr (Alor). Nama ilmiahnya berasal dari perkataan Yunani lawas: pelte (=perisai), pherein (=membawa), serta pteron (=sayap), dan karpos (=buah).

https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b6/Flower%2C_buds%2C_leaves%2C_fruit_I_IMG_1594.jpg

Pohon yang menggugurkan daun; biasanya berukuran sedang (tinggi hingga sekitar 30 m), namun terkadang bisa mencapai 50 m; gemang batang hingga 70  cm. Pepagan tebal, hingga 15 mm, merah jambu di dalam. Sesekali berbanir.

Daun majemuk menyirip berganda, 6–16 inci panjangnya, dengan 5–11 pasang sirip; daun penumpu kecil bentuk garis, lekas tanggal. Anak daun 9–20 pasang pada sirip yang tengah; lonjong, 0,5–0,7 × 0,3 inci, ujungnya melekuk atau meruncing kecil, pangkalnya sangat tak simetris; agak seperti kertas, sisi bawah atau kedua-dua permukaan berambut amat halus.

Perbungaan bentuk malai terminal, tegak, besar, hingga 18 inci; dengan sumbu berambut beledu cokelat kemerahan, dan daun pelindung yang lekas gugur. Diameter kuntum bunga sekitar 1,5 inci; mahkota kuning menggelombang, berambut cokelat di pangkalnya; benangsari kuning belerang dengan serbuksari berwarna jingga. Buah polong cokelat merah keunguan, 2,5–5,5 × 1 inci, berisi 1–5 biji.

  • Kegunaan

Sebagai peneduh tepi jalan

Soga terutama terkenal karena pepagannya yang, utamanya di masa lalu, diperdagangkan dalam jumlah besar sebagai bahan pewarna. Pepagan soga merupakan bahan utama untuk menghasilkan warna coklat kekuningan pada industri batik di Jawa, khususnya pada masa ketika bahan pewarna sintetik masih langka.

Untuk membuat pewarna, pepagan soga dikeping menjadi potongan kecil-kecil dan direbus bersama beberapa bahan lain. Variasi warna diperoleh dengan mengatur komposisi bahan-bahan pencampur seperti pepagan tengar (Ceriops), kayu sejenis Maclura, kayu secang (Caesalpinia), pepagan tekik (Albizia lebbekoides), atau bahan-bahan lain.

Pepagan soga juga mengandung sekitar 17,7% tanin, yang digunakan sebagai bahan penyamak kulit atau sebagai ubar jala.

Kayunya yang cokelat kemerahan atau kehitaman bermutu sedang, cukup keras dan agak berat, dipergunakan sebagai kayu konstruksi ringan, bahan perabotan rumah tangga, atau ukir-ukiran. Soga juga menghasilkan kayu bakar.

Dalam agroforestri, soga ditanam sebagai pohon peneduh, penahan angin, pengikat nitrogen, serta sebagai pupuk hijau. Soga juga ditanam sebagai tanaman pengisi di hutan-hutan tanaman jati dan mahoni. Di samping itu, daun-daunnya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dan bunga-bunganya –di India– menghasilkan serbuk sari untuk budidaya lebah Trigona.

Dengan tajuk yang rindang, perawakan yang anggun, dan bunganya yang indah semarak, soga digemari sebagai pohon hias. Tumbuhan ini kerap ditanam di taman-taman, serta sebagai peneduh tepi jalan.

  • Habitat dan Penyebaran

Habitat alami soga adalah dataran rendah; pohon ini di alam jarang ditemui di atas ketinggian 100 m dpl. Soga acap didapati tumbuh di sekitar pantai dan sisi belakang hutan bakau. Di Jawa, soga juga diketahui hidup liar di hutan-hutan jati dan padang ilalang. Tumbuhan ini menyukai tempat-tempat terbuka dan hutan-hutan yang terganggu.[5]

Soga hidup di lingkungan tropis dengan 1–3 bulan kering (kemarau); di hutan hujan atau vegetasi pantai dengan musim kemarau yang jelas, atau di lingkungan sabana berpohon, dengan kisaran curah hujan antara 1.500–4.500 mm pertahun. Soga juga dapat tumbuh hingga ketinggian 1.600 m dpl.

Soga menyebar alami mulai dari Srilanka, Andaman, Bangladesh, Burma, Kamboja, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaya, Indonesia, Papua Nugini, dan Australia. Tanaman ini juga diintroduksi ke Filipina, Pakistan, Nigeria, dan Amerika Serikat.

2. Canting

Canting tradisional Indonesia

Canting (dari bahasa Jawa, canthing, IPA:tʃanʈiŋ) adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis, kerajinan khas Indonesia. Canting tradisional untuk membatik adalah alat kecil yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya.

  • Kegunaan

Canting dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan malam. Canting pada umumnya terbuat dari bahan tembaga dengan gagang bambu, namun saat ini canting untuk membatik mulai digantikan dengan  teflon.

  • Desain

Sebuah canting terdiri dari:

  1. Nyamplung: tempat tampungan cairan malam, terbuat dari tembaga.
  2. Cucuk: tergabung dengan nyamplung, adalah tempat keluarnya cairan malam panas saat menulis batik.
  3. Gagang: pegangan canting, umumnya terbuat dari bambu atau kayu.

Ukuran canting dapat bermacam-macam sesuai besar kecilnya lukisan batik yang akan dibuat. Saat digunakan, pengrajin memegang canting seperti menggunakan pena, mengisi nyamplung dengan malam cair dari wajan tempat memanaskan malam tersebut. Pengrajin kemudian meniup cairan malam panas dalam nyamplung untuk menurunkan suhunya sedikit, kemudian melukiskan malam yang keluar dari cucuk tersebut di atas gambar motif batik yang sebelumnya telah dilukis dengan pensil.

3.  Akar wangi

Rumput akar wangi (Vetiveria zizanioides, syn. Andropogon zizanoides) adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini dapat tumbuh sepanjang tahun, dan dikenal orang sejak lama sebagai sumber wangi-wangian. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan serai atau padi.

Akarnya yang dikeringkan secara tradisional dikenal sebagai pengharum lemari penyimpan pakaian atau barang-barang penting, seperti batik dan keris. Aroma wangi ini berasal dari minyak atsiri yang dihasilkan pada bagian akar.

Tumbuhan ini merupakan komoditas perdagangan minor walaupun cukup luas penggunaan minyaknya dalam industri wangi-wangian.

4. Malam (Zat)

Malam (bahasa Inggris: wax) adalah suatu zat padat yang diproduksi secara alami. Dalam istilah sehari-hari orang menamakannya “lilin“. Lilin (kandil) sendiri memang dapat menggunakan malam sebagai bahan bakarnya.

Kebanyakan malam diperoleh dari ekskresi tumbuh-tumbuhan, berupa damar atau resin. Pada tumbuhan, malam adalah hasil metabolisme sekunder yang dikeluarkan oleh pembuluh resin. Sumber hewani untuk malam berasal dari sarang tawon dan lebah.

Malam digunakan secara luas dalam industri. Dalam pembuatan batik, malam berperan sebagai penutup bagian kain agar tidak terwarnai dalam pencelupan.

Secara kimiawi, malam tergolong sebagai lipid.

5. Lerak

CIU (terutama Sapindus rarak De Candole, dapat pula S. mukorossi) atau dikenal juga sebagai rerek atau lamuran adalah tumbuhan yang dikenal karena kegunaan bijinya yang dipakai sebagai deterjen tradisional. Batik biasanya dianjurkan untuk dicuci dengan lerak karena dianggap sebagai bahan pencuci paling sesuai untuk menjaga kualitasnya (warna batik).

  • Ciri-ciri batang, daun dan bunga/buah

Tumbuhan lerak berbentuk pohon dan rata-rata memiliki tinggi 10m walaupun bisa mencapai 42 meter dengan diameter 1m, karenanya pohon lerak besar dengan kualitas kayu yangsetara kayu jati banyak ditebang karena memiliki nilai ekonomis. Bentuk daunnya bulat-telur berujung runcing, bertepi rata, bertangkai pendek dan berwarna hijau. Biji terbungkus kulit cukup keras bulat seperti kelereng, kalau sudah masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin dan mengkilat

  • Manfaat

Biji lerak mengandung saponin, suatu alkaloid beracun, saponin inilah yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci, dan dapat pula dimanfaatkan sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai, bahkan memandikan dan membersihkan binatan peliharaan. Kandungan racun biji lerak juga berpotensi sebagai insektisida. Kulit buah lerak dapat digunakan untuk mengurangi jerawat pada wajah dan kudis.

Buah lerak relatif mudah didapatkan biasanya dijual di pasar-pasar tradisional. Saat ini di pasaran telah juga tersedia produk lerak cairdalam kemasan yang lebih praktis sehingga bisa langsung dipakai.

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s